Oregade

George Bush ke Indonesia

Posted on: November 21, 2006

Bogor, 20 Nopember 2006

DUA wajah yang amat bertentangan mengiringi kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush ke Indonesia. Kemesraan di Istana Bogor antara Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di satu sisi dan kegarangan massa demonstran di jalan-jalan di sisi yang lain.

Bila massa demonstran dianggap mewakili rakyat Indonesia, kedatangan Bush sungguh tidak dikehendaki. Akan tetapi, bila Presiden Yudhoyono dianggap juga mewakili rakyat Indonesia, secara legalistik formal demikian adanya, kehadiran Bush ternyata sangat diminati. Itu fakta.

Kebencian terhadap Bush disuarakan dan dinyatakan melalui berbagai cara. Dari yang masuk akal dan pantas sampai kepada yang tidak dapat dimengerti. Sementara itu, pemerintah kukuh pada pendirian tentang manfaat kedatangan Bush tanpa penjelasan secukupnya untuk menepis anggapan, bahkan keyakinan di kalangan demonstran, bahwa Bush adalah penebar petaka di mana-mana.

Namun, terlepas dari jarak antara fakta di jalan dan di istana, kunjungan seorang Bush sudah terjadi. Walaupun hanya lima jam di Indonesia, walaupun disambut dengan hiruk pikuk demonstrasi hampir di seantero provinsi, Bush telah meninggalkan Indonesia dengan tersenyum.

Dari pernyataan bersama antara SBY dan Bush terlihat bahwa ada komitmen kuat dari Washington untuk membantu Indonesia dalam berbagai bidang, seperti sosial, pendidikan, perdagangan, kesehatan, termasuk pemberantasan pembalakan liar. Bantuan itu, tentu, tidak dengan sendirinya harus menyumbat kerisauan kita terhadap sepak terjang Amerika di Irak, Afghanistan, dan perannya di balik perang berlarut-larut antara Israel dan Palestina.

Kekalahan Partai Republik–partai Bush–dalam pemilihan sela baru-baru ini akibat ketidaksetujuan rakyatnya terhadap politik luar negeri yang diterapkan di Irak dan Afghanistan. Artinya, pemikiran rakyat Indonesia terhadap Bush, khususnya dalam masalah Irak dan Afghanistan, sama dengan rakyat Amerika terhadap presidennya. Yang berbeda, tentulah, pada cara menyampaikannya.

Akan tetapi, hubungan Indonesia dan Amerika Serikat tidak sepatutnya dikerdilkan hanya pada soal tingkah laku Washington di Irak, Afghanistan, Israel, dan Palestina. Kepentingan Indonesia terhadap Amerika jauh lebih besar dan banyak. Misalnya bagaimana hubungan kedua negara bisa memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.

Indonesia adalah negara penting dan strategis. Indonesia berada pada jalur laut strategis, yaitu Selat Malaka dan Selat Lombok. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan diyakini sebagai muslim moderat. Indonesia adalah negara dengan pasar terbesar nomor empat di dunia.

Amerika Serikat di lain pihak adalah negara yang memiliki banyak sekali kekuasaan lebih sehingga dijuluki superpower. Dua kelebihan itu hanya bisa mendatangkan manfaatkan bila dikemas dalam tata hubungan yang baik. Tata hubungan antara negara dan tata perilaku warga negara juga. Tidak bisa kita hanya berhubungan baik dan mesra di tataran negara, tetapi kejam di tataran masyarakat.

Tentu saja, negara yang baik adalah negara yang mampu membentuk tata pikir dan tata laku warganya. Dan sebagai warga yang berada di negara yang mulai belajar demokrasi seperti Indonesia, kita sebaiknya lebih gigih mengawasi dan mengontrol pemerintah sendiri daripada mengatur negara orang lain.

ADA dua ekstrem yang terjadi di sekitar kunjungan Presiden Amerika Serikat George W Bush hari ini. Yaitu, ekstrem menyambut, dan ekstrem menolak.

Ekstrem menyambut, hingga menyusahkan rakyat. Terminal bus dipindahkan, rute angkutan kota diubah, telepon seluler dihentikan, sekolah diliburkan, dan warga enggan keluar rumah. Pasar pun menjadi sepi. Akhirnya, rakyat kecil juga seperti pedagang yang menjadi korban.

Tamu negara tentu saja harus dijamin keamanannya. Dan Bush bukan pula presiden sembarang negara. Ia pemimpin negara adikuasa. Namun, pengamanan yang berlebihan telah menyinggung harga diri bangsa, karena lebih menunjukkan bangsa ini seakan budaknya Amerika Serikat. Dan, Bush tuan besarnya.

Padahal Bush, dilihat dari kelakuannya terhadap Afghanistan dan Irak, sangat jelas merupakan Presiden Amerika Serikat yang tak layak untuk mendapat sambutan yang hangat, apalagi berlebihan. Ia bahkan harus dikecam habis-habisan.

Penolakan atas kedatangan Bush memang memiliki dasar yang kuat, sangat kuat. Perang yang dilakukannya terhadap Afghanistan dan Irak adalah tindakan diktator. Itu contoh kemunafikan Amerika Serikat yang mengaku diri sebagai kampiun demokrasi, penegak hak asasi manusia.

Protes yang meluas menyambut kedatangan Bush mestinya memberi pelajaran kepada negara adidaya itu. Yaitu, siapa pun yang menjadi presiden Amerika Serikat tidak boleh semaunya terhadap negara lain. Dan, sebaliknya, juga memberi pelajaran kepada siapa pun yang menjadi presiden di negeri ini, untuk menerima tamu negara tanpa mengurangi kehormatan bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: